Rabu, 17 November 2010

PANTUN: Banyak Hutan Singarimbun

Banyak Hutan Singarimbun
Category: Humor Batak

Banyak hutan yang Singarimbun
Jalan di bukit naik dan Manurung
Sumber daya alamnya Batubara
Wirausahanya Panjaitan

Pisau tak tajam namanya pisau Sitompul
Banyak plasa, mal, dan Departemen Sitorus
Hobi orang Batak memanjat Tobing
Kucing si meong milik Situmeang

Matahari terbenam ke arah Hutabarat
Tidak bisa baca tulis namanya Hutauruk
Kalau hujan pakailah Sipayung
Makanan kecilnya kue Lubis

Tukang jahit pasti punya Ginting
Musim kemarau sawahnya Girsang
Kalau kirim surat lewat Naipospos
Hobinya naik tebing dan naik Pohan

Setelah pertigaan ada Parapat
Di Jawa ada Pak De di Batak ada Pardede
Sarapannya nasi Sembiring
Mereka suka berkumpul baik si muda maupun Situa


PAntun ini diposting dari sumber:

http://ketawa.com/humor-lucu-det-4573-banyak_hutan_singarimbun.html

Lelaki yang Ingin Dikubur di Samosir itu Bernama Nahum Situmorang

SUDAH 40 tahun ia wafat, namun namanya kian sering disebut-sebut. Lagu-lagu gubahannya pun tiada putus disenandungkan; menghibur orang-orang, menafkahi pekerja dunia malam, mengalirkan keuntungan bagi pengusaha hiburan dan industri rekaman. Tapi, orang-orang, khususnya etnis Batak dan yang familiar dengan lagu Batak, segelintir saja yang tahu siapa dia sesungguhnya. Ironisnya lagi banyak yang tak sadar bahwa sejumlah lagu yang selama ini begitu akrab di telinga mereka, lahir dari rahim kreativitas lelaki yang hingga ajalnya tiba tetap melajang itu.
Apa boleh buat, selain catatan atas diri Nahum sendiri yang memang minim, ia terlahir dan berada di tengah sebuah bangsa yang amat rendah tingkat pengapresiasian atas suatu karya cipta; yang hanya suka menikmati karya orang lain tanpa mau tahu siapa penciptanya, selain enggan memberi penghargaan pada orang-orang kreatif yang telah memperkaya khazanah karsa dan rasa.
Nahum pun menjadi sosok yang melegenda namun tak pernah tuntas diketahui asal-usulnya. Sulit menemukan sumber yang sahih untuk menerangkan seperti apakah dulu proses kreatifnya, peristiwa atau pengalaman pahit apa saja yang memengaruhi kelahiran lagu-lagu ciptaannya, seberapa besar andilnya menumbuhkan semangat kemerdekaan manusia Indonesia dari kuasa penjajah, dan jasanya yang tak sedikit untuk menyingkap tirai keterbelakangan manusia Batak di masa silam. Ia adalah pejuang yang dibengkalaikan bangsa dan negerinya, terutama sukunya sendiri. Seseorang yang sesungguhnya berjasa besar mencerdaskan orang-orang sekaumnya namun tak dianggap penting peranannya oleh para penguasa di bumi leluhurnya.
Nahum sendiri mungkin tak pernah berharap jadi pahlawan yang akan terus dipuja hingga dirinya tak lagi berjiwa. Pula tak pernah membayangkan bahwa namanya akan tetap hidup hingga zaman memasuki era millenia. Boleh jadi pula tak pernah bisa sempurna ia pahami perjalanan hidupnya hingga usianya benar-benar sirna. Ia hanya mengikuti alur hati dan pikirannya saat melintasi episode-episode kehidupan dirinya yang dipenuhi romantika yang melekat dalam diri para pelakon gaya hidup avonturisme. Tak mustahil pula ia sering bertanya mengapa terlahir sebagai insan penggubah dan pelantun nada dengan tuntutan jiwa harus sering berkelana, bukan seperti saudara-saudara kandungnya yang “hidup normal” sebagaimana umumnya orang-orang di zamannya.
Meski aliran musik yang diusungnya beraneka ragam dan tak seluruhnya bernuansa etnik Batak dan bahkan banyak yang mengadopsi aliran musik Barat macam waltz, bossa, folk, jazz, rumba, tembang-tembang gubahannya begitu subtil dan melodius. Lirik-liriknya pun tak murahan karena menggunakan kosa kata Batak klasik bercitarasa tinggi, kaya metafora, dan karena cukup baik menguasai filosofi dan nilai-nilai anutan masyarakat Batak, mampu menyisipkan nasehat dan harapan tanpa terkesan didaktis.
Ia begitu romantik tapi tak lalu terjebak di kubangan chauvinis, juga seseorang yang melankolis namun menghindari kecengengan bila jiwa dicambuki cinta. Ia melantunkan kegetiran hidup dengan tak meratap-ratap yang akhirnya malah memercikkan rasa muak, sebagaimana kecenderungan lagu-lagu pop Batak belakangan. Ia gamblang meluapkan luka hati akibat cinta yang dilarang namun tak jadi terjebak dalam sikap sarkastis.
***
NAHUM memang bukan cuma penyanyi dan penulis lagu, tetapi juga penyair yang kaya kata dengan balutan estetika yang penuh makna. Lelaki pengelana ini, kata beberapa saksi mata, dalam keseharian senang tampil parlente, senantiasa berpakaian resik dan modis dengan sisiran rambut yang terus mengikuti gaya yang tengah ditawarkan zaman. Anak kelima dari delapan bersaudara ini lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan, 14 Februari 1908. Orangtuanya termasuk kalangan terpandang karena ayahnya, Kilian Situmorang, bekerja sebagai guru di sebuah sekolah berbahasa Melayu, di tengah mayoritas penduduk yang kala itu masih buta huruf.
Kilian sendiri berasal dari Desa Urat, Samosir, sebuah kampung di tepi Danau Toba dan jamak diketahui sebagai kampungnya para keturunan Ompu Tuan Situmorang. (Situmorang Pande, Situmorang Nahor, Situmorang Suhutnihuta, Situmorang Siringoringo, Sitohang Uruk, Sitohang Tongatonga, Sitohang Toruan). Kilian merantau ke wilayah Tapanuli Selatan demi mengejar kemajuan yang kian menguak gerbang peradaban manusia Batak Toba yang begitu lama tertutup dengan splendid-isolation-nya.
Sebagaimana harapannya pada anak-anaknya yang lain, Kilian pun menginginkan Nahum menjadi pegawai pemerintah kolonial. Harapannya itu tak tercapai meski Nahum sangat memenuhi syarat. Ia lebih senang menjadi manusia bebas tanpa terikat, bahkan di kala usianya masih remaja pun sudah berlayar ke Pulau Jawa, suatu hal yang tak terbayangkan bagi umumnya manusia Batak masa itu. Bukan karena kemampuan orangtuanya, melainkan karena dibawa satu pendeta yang bertugas di Sipirok dan kemudian kembali ke Depok, Jawa Barat, setamatnya dari HIS, Tarutung. Di Jakarta ia sekolah di Kweekschool Gunung Sahari dan kemudian meneruskan pendidikan ke Lembang, Bandung, lulus tahun 1928. Selain sekolah umum, ia memperdalam seni musik, terutama saat bersekolah di Lembang.
Ia turut bergabung dengan kalangan pemuda berpendidikan tinggi yang masa itu diterpa kegelisahan yang hebat untuk melepaskan bangsa dari cengkeraman kuasa kolonial. Mereka kerap berkumpul di bilangan Kramat Raya dan pada saat itulah ia berkenalan dan kemudian menjadi pesaing Wage Rudolf Supratman ketika mengikuti lomba penulisan lagu kebangsaan. Supratman memenangi lomba tersebut dengan lagu ciptaannya Indonesia Raya, Nahum diganjar juara dua.
Sayang sekali, lagu yang diperlombakan Nahum itu tak terdokumentasikan dan hingga kini belum ditemukan. Kabarnya, saat itu ia amat kecewa karena merasa lagu ciptaannyalah yang paling layak menang sebab selain unsur orisinalitas, durasinya pun lebih pendek ketimbang Indonesia Raya. (Unsur orisinalitas lagu Indonesia Raya sempat dipersoalkan, namun kemudian menguap begitu saja karena dianggap sensitif). Lelaki muda yang tengah digelontori idealisme dan cita-cita menjadi seniman musik yang mendunia ini pun memilih pulang ke Sumatera Utara, persisnya ke wilayah Keresidenan Tapanuli yang berpusat di Sibolga. Di kota pantai barat Sumatera itulah ia jalani pekerjaan guru di sebuah sekolah partikelir H.I.S Bataksche Studiefonds, 1929-1932.
***
TAHUN 1932 itu pula ia hengkang ke Tarutung karena memenuhi ajakan abang kandungnya, Sopar Situmorang (juga berprofesi pendidik), untuk mendirikan sekolah partikelir bernama Instituut Voor Westers Lager Onderwijs. Pemerintah Hindia Belanda coba menghalangi karena saat itu ada peraturan melarang pembukaan sekolah bila dikelola partikelir. Nyatanya Nahum dan Sopar tetap bertahan dan mengajarkan pengetahun umum macam sejarah dunia, geografi, aljabar, selain musik, kepada murid-murid mereka. Sekolah swasta ini bertahan hingga 1942 karena tentara Dai Nippon kemudian mengambilalih kekuasaan Hindia Belanda, lalu menutupnya.
Sebelum sekolah tersebut ditutup Jepang, ia sudah wara-wiri ke Medan untuk menyalurkan bakat sekaligus mengaktualisasikan dirinya yang acap gelisah. Antara lain, bersama Raja Buntal, putra Sisingamangaraja XII, ia dirikan orkes musik ‘Sumatera Keroncong Concours’ dan pada tahun 1936 memenangkan lomba cipta lagu bernuansa keroncong di Medan. Hingga Hindia Belanda dan Jepang hengkang, ia tak pernah mau jadi pegawai mereka. Nahum memang nasionalis tulen dan karenanya memilih bergiat di ranah partikelir ketimbang mengabdi pada penjajah, selain pada dasarnya (mungkin karena seniman) tak menghendaki segala bentuk aturan yang mengekang kebebasannya berekspresi.
Tapi kala itu, mengandalkan kesenimanan belaka untuk menopang kebutuhan hidup taklah memadai, apalagi Nahum senang bergaul dan nongkrong di kedai-kedai tuak hingga larut malam. Tanpa diminta akan ia petik gitarnya dan bernyanyi hingga puas dan dari situlah bermunculan lagu-lagu karangannya. Dan ia bagaikan magnet, kedai-kedai tuak akan dipenuhi pengunjung yang bukan hanya etnis Batak. Orang-orang seperti tersihir mendengar alunan suaranya. Ia memiliki satu keistimewaan karena bisa menggubah lagu secara spontan di tengah keramaian dan tanpa dicatat. (Inilah salah satu penyebab mengapa lagu-lagunya hanya bisa dikumpulkan 120, sementara dugaan karibnya seperti alm. Jan Sinambela, jumlahnya mendekati 200 lagu).
Jenuh berkelana dari satu kedai ke kedai tuak lainnya, dalam kurun waktu 1942-1945, ia coba berwirausaha dengan membuka restoran masakan Jepang bernama Sendehan Hondohan, seraya merangkap penyanyi untuk menghibur tamu-tamu yang datang untuk bersantap. Sepeninggal Jepang karena kemerdekaan RI, restoran yang dikelolanya bangkrut. Ia kemudian berkelana dari satu kota ke kota lain sebagai pedagang permata sembari mencipta lagu-lagu bertema perjuangan dan pop Batak. Masa-masa itu pula ia kembali memasuki dunia manusia Batak dengan berbagai puak yang menghuni Sidempuan, Sipirok, Sibolga, Tarutung, Siborongborong, Dolok Sanggul, Sidikalang, Balige, Parapat, Pematang Siantar, Berastagi, dan Kabanjahe.
Tahun 1949, Nahum kembali menetap di Medan untuk menggeluti usaha broker jual-beli mobil dan tetap bernyanyi serta mencipta lagu, juga kembali melakoni kesenangannya bernyanyi di kedai-kedai tuak. Sesekali ia tampil mengisi acara musik di RRI bersama kelompok band yang ia bentuk (Nahum bisa memainkan piano, biola, bas betot, terompet, perkusi, selain gitar). Periode 1950-1960, menurut kawan-kawan dan kerabatnya, adalah masa-masa Nahum paling produktif mencipta lagu dan tampil total sebagai seniman penghibur. Tahun 1960, misalnya, ia dan rombongan musiknya tur ke Jakarta. Setahun lebih mereka bernyanyi, mulai dari istana presiden, mengisi acara-acara instansi pemerintah, diundang kedubes-kedubes asing, live di RRI, hingga muncul di kalangan komunitas Batak. Pada saat tur ini pula ia manfaatkan untuk merekam lagu-lagu ciptaannya dalam bentuk piringan hitam di perusahaan milik negara, Lokananta.
***
SAMPAI usianya berujung, ia tetap melajang. Kerap disebut-sebut, ia didera patah hati yang amat parah dan tak terpulihkan pada seorang perempuan bermarga Tobing, yang kabarnya berasal dari kalangan terpandang. Orangtua perempuan itu tak merestui Nahum yang “cuma” seniman menikahi anak gadis mereka. Cinta Nahum rupanya bukan jenis cinta sembarangan yang mudah digantikan wanita lain. Ternyata, berpisah dengan kekasihnya, benar-benar membuat Nahum bagaikan layang-layang yang putus tali di angkasa; terbang ke sana ke mari tanpa kendali. Ia tetap meratapi kepergian kekasihnya yang sudah menikah dengan pria lain. Sejumlah lagu kepedihan dan dahsyatnya terjangan cinta, berhamburan dari jiwanya yang merana.
Demikian pun Nahum tak hanya menulis sekaligus mendendangkan lagu-lagu bertema cinta. Dari 120 lagu ciptaannya yang mampu diingat para pewaris karyanya, mengangkat beragam tema: kecintaan pada alam, kerinduan pada kampung halaman, nasehat, filosofi, sejarah marga, dan sisi-sisi kehidupan manusia Batak yang unik dan khas. Dan, kendati pada tahun 30-an isu dan pengaturan atas hak cipta suatu karya lagu/musik belum dikenal di Indonesia, Nahum sudah menunjukkan itikad baik ketika mengakui lagu Serenade Toscelli yang ia ubah liriknya ke dalam Bahasa Batak menjadi Ro ho Saonari, sebagai lagu ciptaan komponis Italia.
Nahum pun terkenal memiliki daya imajinasi serta empati yang luarbiasa. Tanpa pernah mengalami atau menjadi seseorang seperti yang ia senandungkan dalam berbagai lagu ciptaannya, ia bisa menulis lagu yang seolah-olah dirinya sendiri pernah atau tengah mengalaminya. Salah stau contoh adalah lagu Anakhonhi do Hamoraon di Au (Anakkulah kekayaanku yang Terutama). Lagu bernada riang itu seolah suara seorang ibu yang siap berlelah-lelah demi nafkah dan pendidikan anaknya hingga tak mempedulikan kebutuhan dirinya. Lagu tersebut akhirnya telah dijadikan semacam hymne oleh kaum ibu Batak, yang rela mati-matian berjuang demi anak. Ketika menulis lagu itu Nahum layaknya seorang ibu.
Kemampuannya berempati itu, bagi saya, masih tetap tanda tanya, karena ia lahir dan besar di lingkungan keluarga yang relatif mapan karena ayahnya seorang amtenar yang tak akrab dengan kesusahan sebagaimana dirasakan umumnya orang-orang yang masa itu, sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari pun terbilang sulit. Ia pun tak pernah berumahtangga (apalagi memiliki anak) hingga mestinya tak begitu familiar dengan keluh-kesah khas orangtua Batak yang harus marhoi-hoi (susah-payah) memenuhi keperluan anak.
Juga ketika ia menulis lagu Modom ma Damang Unsok, laksana suara lirih seorang ibu yang sedih karena ditinggal pergi suami namun tetap meluapkan cintanya pada anak lelakinya yang masih kecil hingga seekor nyamuk pun takkan ia perkenankan menggigit tubuh si anak. Ia pun menulis lagu Boasa Ingkon Saonari Ho Hutanda yang menggambarkan susahnya hati karena jatuh cinta lagi pada perempuan yang datang belakangan sementara ia sudah terikat perkawinan, seolah-olah pernah mengalaminya.
Kesimpulan saya, selain memiliki daya imajinasi yang tinggi, Nahum memang punya empati yang amat dalam atas diri dan kemelut orang lain. Dalam lagu Beha Pandundung Bulung, misalnya, ia begitu imajinatif dan estetis mengungkapkan perasaan rindu pada seseorang yang dikasihi, entah siapa. Simak saja liriknya: Beha pandundung bulung da inang, da songonon dumaol-daol/Beha pasombu lungun da inang, da songon on padao-dao/Hansit jala ngotngot do namarsirang, arian nang bodari sai tangis inang/Beha roham di au haholongan, pasombuonmu au ito lungun-lungunan. Ia lukiskan perasaan rindu itu begitu sublim, indah, namun tetap menyisipkan nada-nada kesedihan.
Mengentak pula lagunya (yang dugaan saya dibuat untuk dirinya sendiri) berjudul Nahinali Bangkudu. Lirik lagu itu tak saja menggambarkan ironi, pun tragedi bagi sang lelaki yang akan mati dengan status lajang. Dengan pengunaan metafora yang mencekam, Nahum meratapi pria itu (dirinya sendiri?) begitu tajam dan menusuk kalbu: Atik parsombaonan dapot dope da pinele, behama ho doli songon buruk-burukni rere. Ironis sekaligus tragis.
Dan Nahum tak saja pandai menulis lagu yang iramanya berorientasi ke musik Barat, pun piawai mengayun sanubari lewat komposisi-komposisi berciri etnik dengan unsur andung (ratap) yang amat pekat. Perhatikanlah lagu Huandung ma Damang, Bulu Sihabuluan, Assideng-assidoli, Manuk ni Silangge, dan yang lain, begitu pekat unsur uning-uningan-nya.
Akhirnya kesan kita memang, dari 120 lagu ciptaannya yang mampu dikumpulkan para pewarisnya, tak ubahnya kumpulan 120 kisah tentang manusia Batak, alam Tano Batak, berikut romantika kehidupan. Ia tak hanya piawai menggambarkan suasana hati namun mampu merekam aspek sosio-antropologis masyarakat (Batak) yang pernah disinggahinya dengan menawan. Lagu Ketabo-ketabo, misalnya, menceritakan suasana riang kaum muda Angkola-Sipirok saat musim salak di Sidempuan, sementara Lissoi-lissoi yang kesohor itu merekam suasana di lapo tuak dan kita seakan hadir di sana.
Demikian halnya tembang Rura Silindung dan Dijou Au Mulak tu Rura Silingdung, begitu kental melukiskan lanskap daerah orang Tarutung itu, hingga saya sendiri, misalnya, selalu ingin kembali bersua dengan kota kecil yang dibelah Sungai Aeksigeaon dan hamparan petak-petak sawah dengan padi yang menguning itu bila mendengar kedua lagu tersebut. Nahum pun melampiaskan kekagumannya pada Danau Toba melalui O Tao Toba. Mendengar lagu ini, kita seperti berdiri di ketinggian Huta Ginjang-Humbang, atau Tongging, atau Menara Panatapan Tele, menyaksikan pesona danau biru nan luas itu. Kadang memang ia hiperbolik, contohnya dalam lagu Pulo Samosir, disebutnya pulau buatan itu memiliki tanah yang subur dan makmur sementara kenyataannya tak demikian.
***
SAYA termasuk beruntung karena semasih bocah, 1969, beberapa bulan sebelum kematiannya, menyaksikannya bernyanyi di Pangururan bersama VG Solu Bolon. Saya belum tahu betul siapa Nahum Situmorang dan menurut saya saat itu show mereka begitu monoton dan kurang menggigit karena tanpa disertai instrumen band. Ia tampil parlente dengan kemeja dan celana warna putih, walau terlihat sudah tua. Rupanya ia sudah digerogoti penyakit (kalau tak salah lever) namun tetap memaksakan diri bernyanyi ke beberapa kota kecil di tepi Danau Toba hingga kemudian meninggal dunia di usia 62 tahun.
Lewat karya-karyanya, seniman-seniman Batak telah ia antarkan melanglang ke manca negara, macam Gordon Tobing, Trio The Kings, Amores, Trio Lasidos, dan yang lain. Lewat lagu-lagu gubahannya pula banyak orang telah dan masih terus diberinya nafkah dan keuntungan. Sejak remaja telah ia kontribusikan bakat dan mendedikasikan dirinya untuk negara dan Bangso Batak. Lebih dari patut sebenarnya bila mereka yang pernah berkuasa di seantero wilayah Tano Batak memberi penghargaan yang layak bagi dirinya, katakanlah menyediakan sebuah kubur di Samosir yang bisa dijadikan monumen untuk mengenang dirinya.
Kini sisa jasad Nahum masih tertimbun di komplek pekuburan Jalan Gajah Mada, Medan. Keinginannya dikembalikan ke tanah leluhurnya melalui lagu Pulo Samosir, masih tetap sebatas impian. Ia tinggalkan bumi ini pada 20 Oktober 1969 setelah sakit-sakitan tiga tahunan dan bolak-balik dirawat di RS Pirngadi. Piagam Tanda Penghormatan dari Presiden SBY diganjar untuknya pada 10 Agustus 2006, melengkapi Piagam Anugerah Seni yang diberikan Menteri P&K, Mashuri, 17 Agustus 1969.
Para pewaris karya ciptanya yang sudah ditetapkan hakim PN Medan, 1969, sudah lama berkeinginan memindahkan jasadnya dan membuat museum kecil di Desa Urat, Samosir, sebagaimana keinginan Nahum. Diharapkan, para penggemarnya bisa berziarah seraya mendengar rekaman suaranya dan menyaksikan goresan lagu-lagu gubahannya. Rencana tersebut tak lanjut disebabkan faktor biaya dan (sungguh disesalkan) di antara para pewaris yang sah itu, yakni keturunan abang dan adik Nahum, terjadi perpecahan lantaran persoalan pengumpulan royalti.
***
PERTENGAHAN 2007, sekelompok pewaris yang diketuai Tagor Situmorang (salah seorang keponakan kandung Nahum, Ketua Yayasan Pewaris Nahum Situmorang) meminta Monang Sianipar, pengusaha kargo dan ayah musisi Viky Sianipar, sebagai ketua peringatan 100 Tahun Nahum Situmorang berupa pagelaran konser musik besar-besaran di Jakarta dan Medan, Februari 2008. Kemudian mereka minta pula saya, entah pertimbangan apa, jadi ketua pemindahan kerangka dan pembangunan Museum Nahum Situmorang di Desa Urat. Saya dan Monang tentu antusias menerima tawaran tersebut, namun setelah belakangan tahu di antara para pewaris ternyata ada perselisihan, saya sarankan agar mereka terlebih dahulu melakukan rekonsiliasi karena proyek semacam itu bukan sesuatu yang bisa disembarangkan dalam hukum adat Batak.
Di tengah proses penyiapan proposal, tiba-tiba saya dengar ada seorang dongan sabutuha (teman satu marga) yang belum lama berprofesi pengacara, mendirikan satu yayasan pengelola karya cipta Nahum Situmorang. Dirangkulnya kubu yang berselisih dengan kelompok Tagor (juga keponakan kandung Nahum) dan sejak itulah beruntun “kejadian hukum” yang hingga kini belum terselesaikan dan akhirnya menyeret-nyeret pedangdut Inul Daratista karena tuduhan tak membayar royalti yang diputar di karaoke-karaoke Inul Vista.
Saya pun lantas menghentikan langkah, semata-mata karena merasa tak elok bila dianggap turut meributkan royalti atas karya cipta seseorang yang sudah wafat dan sangat berjasa bagi Bangso Batak, selain seseorang yang amat saya kagumi. Konser batal, pemindahan kerangka dan pembangunan museum Nahum terbengkalai.
Tentu saja saya kecewa, seraya menyesali minimnya apresiasi dari para penguasa di wilayah eks Keresidenan Tapanuli terhadap Nahum, yang tak juga menunjukkan gelagat akan melakukan sesuatu untuk menghormati jasa-jasa beliau sebagai salah satu tokoh pencerahan Bangso Batak. Alangkah miskinnya ternyata penghormatan para bupati, khususnya Pemkab Tapanuli Utara, Tobasa, Samosir, terhadap seniman cum pendidik yang legendaris itu. Tetapi yang lebih saya sesali adalah kisruh akibat munculnya klaim-klaim sebagai pewaris yang absah atas karya cipta Nahum hingga keinginan mewujudkan impiannya (yang sebetulnya sederhana) agar dikubur di bumi Samosir, semakin tak pasti.
Saya tak tahu bagaimana perasaan mereka yang berseteru sengit hingga jadi santapan infoteinmen menyangkut klaim hak cipta karya Nahum itu manakala mendengar penggalan lirik lagu Pulo Samosir ini: Molo marujungma muse ngolukku sai ingotma/Anggo bangkeku disi tanomonmu/Disi udeanku, sarihonma. (Bila hidupku sudah berakhir, ingatlah/Makamkanlah jasadku di sana/Sediakanlah kuburanku di sana). Demikianpun, saya tetap berharap gagasan memindahkan jasad Sang Guru ke bumi Samosir berikut pembangunan museum kecil untuk menghormatinya akan terwujud suatu saat, entah siapapun pelaksananya. ***

si Sunting dari sumber

http://tanobatak.wordpress.com/2009/09/15/lelaki-yang-ingin-dikubur-di-samosir-itu-bernama-nahum-situmorang/

Lyrics - Asa Sombu Roham

Lyrics - Asa Sombu RohamAxido Trio(Cipt. Lans Hutabarat)

Holong ni rohakki, arop ni rohakkiTu ho ito da hasianHape tung ikkon magopo ….Disimpang parsirangan i …..

***Tung aha be ito, na boi tarbaen auLao mangabbati laktamiTung ilukki nama ito …Hata parpudi sian au

Lao ma ho – lao ma hoLao ma ho ale itoMolo i nama na pasonang rohamLao ma ho – lao ma hoTutun ma nasalomonTung so pola tiopokku ho ito

Lao ma ho – lao ma hoLao ma ho lupahon ma au itoLupahon ma au itoAsa tung sombu roham da hasian

Back to ***

http://www.4shared.com/audio/zCGPunEu/Lagu_Batak_-_Asa_Sombu_Roham.htm

PUISI UNTUK AYAH by Ostern Parona Sihombing (Mengenang tanggal 21 September 2001)

PUISI UNTUK AYAH

Lama engkau pergi meninggalkan kami
Hingga sekian lama aku menderu dalam rintihan tanpa henti
Perihnya cobaan sekarang datang menghampiri
Menghadang jalanku, hingga serasa bagai tersandung batu

Ayah, engkau lukisan yang takkan pernah redup
Kasih setiamu selalu terangkai indah dalam kehidupanku
aku tak bisa berkata apa-apa lagi
Selain doa dan ucapan puji syukur...

Ayah....
Tanpa terasa kesepian itu telah meraja
9 tahun lamanya kau telah pergi meninggalkan kami
Hingga kami sekarang menjadi asa yang merintih
Yang menangis dalam jeritan yang tiada henti

Ayah...
Biarlah airmata ini ku tetes sebagai bukti kesetiaanku
Agar kau dapat melihat budi baik anakmu terhadap dirimu
Engkau yang tak bisa aku lupakan dalam hidupku
Hingga dalam pikiranku terbersit hanya kenangan indah tentangmu...

Ayah....
Biarkanlah bunga-bunga yang dahulu pernah menghiasi dunia
Akan semerbak menghiasi hari kepergianmu yang sudah 9 tahun lamanya
Dan aku ingin sukacita abadi terbukti dalam kenanganmu
Dan kamipun dapat rasakan sukacita yang lebih berarti

Kini, kami hanya bisa menghapus setiap derai airmata
Dan menahan setiap jeritan dalam hati ini...

Jujur jika aku harus memilih..
aku ingin hidup dalam keluarga yang utuh...

Karena itu ayahku yang sangat aku cintai
Hadirlah engkau dalam mimpi indahku
Hiasilah malamku dengan senyum indahmu
Meski aku akn bertemu engkau lagi hanya lewat ilusi
Tapi bagiku itu adalah hal terindah..
Karena selamanya kau tetap menjadi yang terbaik
Dimata kami anak-anakmu..........

Selamat jalan ayah...
Doaku menyertaimu..................

PUISI: AIRMATA TERINDAH by Ostern Parona sihombing

AIRMATA TERINDAH


Kau ukiran dalam hidupku selama ini
Kau yang beri aku ketegaran dalam terangnya cintamu
Kau hadir dihatiku bagai lukisan yang terindah
Yang selalu tersenyum bagai indahnya mentari pagi

Aku berlari dalam kehampaan senja
Dan aku terus mencari-cari arti kekosongan dalam hidupku
Dia yang selalu buat aku berarti
Kini telah buramkan segala kisah indahku
Hingga tercipta suatu yang tak jelas lagi dihadirku

Sungguh, aku ingin menagisi takdirku
Aku ingin menangisi gelapnya dunia yang menyapaku
Aku tak menyangka kalau riakan asahku sangat mengiris sukmaku
Dan akupun terkulai dalam ketidakberdayaanku

Oh,Tuhan...Biarkan airmata ini menetes
Dan biarkan segala masa lalu itu menghilang dan pergi
Karena apalah gunanya ini dipertahankan
Jika jiwaku merintih dan menangis
Dalam airmata yang mengalir dijiwaku
Yang selalu ku sebut sebagai airmata terindah
Sebagai bukti bahwa aku mengalah dalam keberadaan cintaku ini
Yang semakin buatku tak ada artinya lagi.

Puisi Di Balik Sebuah Tangisan Hati karya Ostern Parona sihombing

Ku melihat pagi sudah tak seperti biasanya
Sang surya juga sudah semakin tak bersahaja
Dan ku melihat kemelut semakin mengusamkan raga
Hingga membentuk asah nan berjubah penderitaan


Ku rasakan risau yang makin memenjara sukma
Ku saksikan celaan yang tak semakin bersahabat ini
Dan aku inipun kian terbenam dan hanyut dalam derita
Hingga airmata menjadi tak asing lagi bagiku


Ingin ku menggapai pelangi-pelangi hidupku yang t’lah menghilang
Untuk mewarnai kembali hidupku yang t’lah rapuh
Namun dikala aku ingin melangkah tuk menggapainya
Langkahku goyah dan mati arah
Sehingga semakin  menjebak aku agar tertindas
Namun aku mencoba bertahan walau hanya sesaat


Oh.….Inikah yang dimaksud dengan takdir
Dan inikah ujian yang harus aku lalui
Meskipun berat tapi aku harus bisa berusaha tegar
Karena aku yakin penderitaan ini bukan menjadi pertanda
Bahwa aku ini sudah semakin lemah
Karena aku percaya masih bahwa ada kebahagiaan yang tersembunyi
Di balik cermin kehidupan yang semakin retak.

Cerpen: Pengorbanan Rara

“Kenapa dengan hatiku, mengapa aku merasakan ada yang beda terjadi dihatiku ini,” Qiqi berucap dalam hatinya. Dia selalu melihat keadaan disekitarnya dan dia selalu terbayang-bayang dengan sosok gadis yang dari dahulu dia sukai, namun sampai dengan saat ini dia belum bisa menyampaikan perasaannya tersebut. Sebut saja nama gadis itu Ratna, dia anak dari seorang guru Matematika, dan Qiqi menyukai Ratna dikarenakan Ratna itu sering menolong dia dalam segala hal. Itulah sebabnya Qiqi selalu berupaya agar suatu saat apa yang terpendam dalam hatinya benar-benar terwujudkan.
            Di suatu ketika, dimana Qiqi dan teman-temannya pergi ke acara ulang tahun Novie, dan jelas saja si Ridho yang selalu merasa dirinya cool habiez berupaya mendekati cewek-cewek tersebut, termasuk juga Ratna, cewek yang menjadi idaman Qiqi.
“Hai, kamu cakep banget seh. Boleh kenalan ngga…???? Tegur Ridho penuh gombal
”Boleh, saya Ratna, saya temannya dekatnya Novie. Oya, kamu sendiri namanya siapa, khan biar saling kenal gitu..???? ” sahut Ratna balik tanya
”Namaku Ahmad Ridho dan panggil ajha Ridho. Aku teman dekatnya Qiqi, ya meski Qiqi kalau urusan kenalan sama cewek bawaannya sering gregetan, tapi dia tetaplah sohib gue yang paling baik,” ucap Ridho menanggapi
“Apa kamu temannya Qiqi. Tapi kamu kok beda ya dengan dia, kamu itu cool habiez, tapi Qiqi pemalunya kelewatan sangat. Tapi kalau baik, dia mah juaranya dah, apalagi kalau giliran ada tugas, yakin Qiqi pasti duluan selesai tugasnya, habiez dia anaknya pinter seh,” balas Ratna
”Ia lah gue temannya Qiqi. Meski dia pemalu, tapi sebenarnya dia pemberani sangat dah....Lagian Qiqi itu perlu waktu untuk beradaptasi, karena mungkin dikarenakan dia jarang keluar rumah, jadi dia pemalunya kebangetan gini. Tapi sudahlah, kenapa pula kita jadi bahas-bahas Qiqi, entar kalau orangnya dengar dikirain kita entar jelek-jelekin dia....” Ridho menanggapi
”Okeylah....!!! ” balas Ratna singkat
”Oya, Ratna, besok ada acara ngga.....???? Kita jalan yuk, sambil biar bisa deket gitu, mau ngga, kalau ngga mau juga ngga apa-apa. Karena aku mau jalan bareng aja dengan kamu, karena jujur pertama ngelihat kamu, spontan aku jadi ngerasa nyaman banget. Jadi kau mau ngga nie....??? tanya Ridho
”Kok aku yang kamu percaya untuk jalan, khan masih ada yang lain tu yang jauh lebih cakep dari pada aku, contohnya Nhila, Rara, Novie, Deta, Dizty, dan pokoknya banyak deh. Aku takut entar kamu kecewa dengan aku, dan aku bukan ngga mau nerima ajakan kamu, tapi karena memang aku belum siap kalau nanti kamu kecewa,” seru Ratna
”Kenapa aku harus kecewa,Ratna. Bukankah aku yang mengajak kamu buat jalan, toh mana mungkin aku kecewa dengan hal itu. Jadi gimana nih Ratna, mau ngga...??? tanya Ridho
”Kamu belum tau saja siapa aku. Aku ini sudah punya tunangan, dia itu Robby dan mungkin kamu mengenal dia, dia itu ketua osis kalian. Aku tak mau kamu dan Robby entar bertengkar karena saya, jadi maaf ya seribu kali maaf,” Ratna menjelaskan
”Ya,sudah ngga apa-apa dech...” seru Ridho
“Ayo kita ke dalam, cara ulang tahunnya sudah mulai,” ajak Ratna
“Ayo…!!!! “ jawab Ridho

            Merekapun masuk ke ruangan tersebut. Sesampainya di tempat acara itu, Ratna melihat Robby tunangannya sedang menggoda Dizty, jadi Ratna merasa seperti dihianati, dan dia langsung mendekati Robby,
“Oh, jadi gini ulahmu dibelakangku ya Rob. Kalau begini jadinya, mending pertunangan kita batal. Kamu juga Dizty, sudah tau dia itu tunangan aku,kok kamu mau digoda dengan lelaki brengsek kayak dia, jujur aku kecewa banget dengan kamu, dan Robby, ingat sekarang kita tak ada hubungan apa-apa, karena sekarang kita putus,” Ucap Ratna
“kamu salah paham Ratna, lagian kamu cuma bilang ke aku, kalau kamu sudah tunangan, dan mana aku kalau tunangan kamu itu, cowok ini, aku mohon jangan karena dia persahabatan kita hancur, dan aku ngga mau itu,” balas Dizty
“Aku tau kok kamu ngga tau dia, tapi aku terlanjur kecewa denganmu Dizty, tapi ya sudahlah, kita buka lembaran baru saja lagi. Yang penting cowok brengsek ini harus pergi dari sini, dari pada aku yang angkat kaki dari acara ini,” ucap Ratna dan tanpa segaja didengar oleh Novie
“Eh,kok kalian malah berantem, kok sial banget aku yach, acara ulang tahunku jadi kacau begini. Kamu lagi Robby, sudah tau kamu sudah tunangan masih saja keganjenan, pergi kau dari acaraku, jangan ku lihat kau ya, atau aku yang bakal nendang kamu dari sini, dan jujur aku kecewa karena kamu acaraku hancur. Sekarang pergi kau Robby….!!! “ kata Novie sambil mengusir Robby

Robbypun langsung pergi dengan perasaan malu, dan Ratna hanya bisa menatap Novie dengan rasa bersalah, sedangkan Dizty hanya bisa tertunduk saja dan diam tanpa kata,
“Sudahlah, kalian jangan merasa bersalah. Kita semua ngga ada yang salah kok,” Ucap Novie
”Makasie ya,Novie. Maaf banget kalau acaramu jadi hancur gini karena aku,” balas Ratna
”Aku juga minta maaf dengan kalian berdua, terutama denganmu,Ratna. Aku tak berniatlah buat kamu kecewa. Tapi mau khan kita bersahabat seperti dulu lagi,” ucap Dizty memohon
”Ia, kita akan bersahabat kayak dulu kok,” balas Ratna sambil tersenyum
”Sudah, berarti acara sudah bisa dimulai dunk,” seru Novie
”Ya,dunk sudah bisa dimulai,” kata Ratna
”Okey ayo kita mulai,” ajak Novie

Noviepun langsung memulai acaranya dan dia mengunjuk Abdhie sebagai protokol yang bakal membawakan acara ulang tahunnya. Sebelum memulai acara tersebut, seperti biasa protokol mengucapkan kata sambutannya,”Pertama-tama saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, dimana atas berkat dan kasih setianya, kita diberi anugerah terindah yaitu kesehatan, hingga kita bisa menghadiri acara ulang tahun dari sobat kita Novie, dengan semangat dan tanpa ada kekurangan sama sekali. Saya selaku protokol mengucapkan selamat ulang tahun pada Novie, semoga panjang umur, makin cantik, makin disayang orang tua, dan pasti Novie juga harus semakin hormat dan patuh dunk, karena apalagi dengan orangtua, kita tak boleh buat mereka sakit hati. Jadi Novie,temanku, jadilah seseorang yang menjadi contoh buat semuanya, jangan suka malas lagi, belajar giat ya, biar apa yang Novie harapkan dan cita-citakan betul-betul terwujud. Ya, mungkin itu saja yang saya smpaikan, semoga Novie dapat menerapkan itu semua, dan Novie juga selalu berlaku yang baik di dalamkeluarga dan keseharian Novia. Terima Kasih,” Abdhie pun langsung memulai acara yang pertama yakni penyalaan lilin, setalah lilin sudah menyala, maka Novie di suruh menyebutkan permintaan dalam hatinya sehingga apa yang dia harapkan tersebut bisa menjadi impian yang akan segera terwujudkan. Setelah menyampaikan kata hatunya, maka Novie diminta meniupkan lilin tersebut, dan setelah lilin berhasil ditiup, maka tibalah saatnya pada cara pemotongan kue, dan Novie diminta memetong beberapa potong kue, dan pastinya potongan pertama itu, harus diberikan, atau disulangkan dengan orang yang benar-benar dekat dengannya. Dan semua orang terkejut, ternyata potongan kue pertama itu disulangkan kepada Siddik, sementara Novie dan Siddik dari dulu ngga pernah akur, tapi mungkin itu sengaja, karena Novie mungkin betul-betul cinta dengan Siddik,
”Hah, kok Siddik seh,” tanya Ratna
”Iya, ya, mereka khan dari dulu ngga pernah akur alias berantem terus,” seru Dizty
”Hahaha, itu mah terserah Novie kali, lagian Novie yang punya perasaan,” Timothy menambahkan
”Iya, seh engkong Mothy, tapi ya kanget aja seh,” ucap Ratna
”Yalah, tapi tak perlu kanget deh,” jawab Timothy singkat
”Huh,cemburu aku,” Kata Rara
”Kenapa harus cemburu seh,” Kata Ratna
”Aku tuh dah lama suka dengan siddik, tapi aku tak berani buat ungkapinnya. Gimana dunk, sementara Siddik sudah dengan Novie,” Rara mengatakan sesuatu yang mengganjal dalam perasaannya
”Yaelah,ikhlasin ajha dech. Lagian Novie khan temanmu juga, dan kamu juga seh dari kemaren ngga jujur ke Siddik kalau kamu suka dengan dia, ya jadinya gini deh, dan siapa yang mau disalahkan coba, sementara kamu dan Siddik belum jadian,” Ratna menyerukan

Spontan waktu Ratna ngomong itu, Rara meminta kepada Novie agar dia diberi kesempatan menyanyikan sesuatu, dan Novie mengizinkannya, dan disitu Rara memilih lagu dari Vagetoz yang judulnya Betapa Aku Mencintaimu, inilah lagunya,

BETAPA AKU MENCINTAIMU

Betapa aku mencintaimu
Dengan sepenuh hatiku
Betapa aku menyayangimu
Lebih dari yang kau tahu, hu,,,Huu...Oh...

Ingin ku bahagiakan dirimu
Sejak saat bersamaku
Seperti janjiku kepadamu
Takkan pernah ku ingkari

Reff. Aku kan selalu ada didekatmu
Aku kan selalu menemani dirimu
Kau harus tahu betapa aku mencintaimu oh...
Usai menyanyikan lagu tersebut Rara kelihatan berkaca-kaca, dan membuat semuanya heran termasuk Novie,
”Ada apa Rara, kok kayaknya lagu itu penuh arti banget buat kamu,” tanya Novie
”Tak apa-apa kok, Cuma aku merasa bahagia saja, temanku sudah punya kekasih,” jawab Rara
”Hohoho, saya kira apa. Kok saya deket dengan Siddik, kamu yang nangis seh....” Novie balik bertanya
“Saya cuma bangga lelaki yang pernah saya sukai, akhirnya mendapatkan gadis baik seprti kamu Novie. Saya ngga bisa sesalkan keterlambatan saya ini, lagian yang salah aku kok yang sudah tak mau jujur dari dulu kalau aku ini suka dan cinta dengan Siddik, tapi mau gimana lagi, aku Cuma bisa merasakan bahagia kamu dengan Siddik, meski saya merasa ini kesalahan yang merupakan penyesalan yang indah buat saya. Jadi aku harap Novie, kamu harus bisa menjaga Siddik ya, jangan kecewakan dia, aku akan merelakan Siddik buat kamu, dan aku janji, ngga bakal mengacaukan hubungan kalian, yang penting kamu mau buat dia bahagia,” jawab Rara sambil terisak
“Ya, saya janji akan menjaga Siddik. Dan aku bangga denganmu sahabatku, pengorbananmu begitu besar, dan saya tak menyangka ini bakal jadinya begini,” ucap Novie menenangkan
”Iya, Novie, kamu lihatkan airmata ini, ini pertanda aku rela korbankan perasaanku untukmu sahabatku, dan lakukanlah yang terbaik ya, dan aku tak mau suatu saat mendengar Siddik kecewa, karena aku tak suka dengan hal itu,” balas Rara
”Sudah...Sudah....Kok melankolis gini seh,” ucap Deta
”Kamu ngga tau seh masalahnya Deta, aku dan Rara, mencintai orang yang sama. Tapi aku bangga karena Rara, mau berjiwa besar menerima itu semua, meski aku juga berat untuk menerima itu,” sahut Novie
”Sudahlah yang penting kalian sudah sama-sama mengerti,” ucap Deta

Terlihat suasana di acara itu semakin melankolis aja, apalagi Rara yang sudah mengorbankan Rasa cintanya harus bisa berusaha setegar-tegarnya menghadapi kenyataan itu,bahwa dia itu bukanlah untuk Siddik, karena Siddik telah menjadi kekasihnya Novie. Dan Qiqi si cowok pemalu hanya bisa melihat mereka, tanpa mau ikut campur sedikitpun, karena menurut Qiqi, dia mendekatpun mereka belum tentu mau menerima Qiqi, meski kenyataan kalau Qiqi itu juga sama seperti Rara, mencintai sahabatnya sendiri. Tapi Qiqi itu lebih menyukai Ratna, tapi Qiqi belum mengetahui apakah Ratna mau menerima dia, untung saja Qiqi tidak mempersalahkan itu, yang penting baginya kehidupan persahabatannya tetap akur dan hidup dengan kedamaian. Dan akhirnya singkat cerita, Rara memutuskan setelah pulang dari acara ini, dia akan meninggalkan kota ini, dan akan pergi ke Singapure untuk beradaptasi, sembari melupakan semua yang sudah terjadi dengannya. Dan benar saja, ketika pulang dari rumah Novie, Rara langsung mengepakin baju-bajunya dan langsung menuju Bandara, dan keinginan Rara untuk meninggalkan kota ini untuk sementara benar-benar terjadi, dan itu semua dilakukan Rara, agar sahabatnya Novie bisa merasa bahagia dengan Siddik tanpa tertekan sama sekali dengan keberadaan Rara. Itu sebabnya Rara memutuskan untuk pergi, dari pada dia akan mengganggu kebahagiaan sahabatnya. SEKIAN

Arsip Blog


ShoutMix chat widget

Dimanakah saya BErada

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini

Pengikut

TEXT. Diberdayakan oleh Blogger.

Ruangan Diskusi